KDM BERI TANGTANGAN | TONI NGAMBEK KARENA MERASA TAK DIPERHATIKAN

Subang – Toni Permana, seorang mantan pemilik bengkel dari Padalarang, menjadi viral setelah menyuarakan amarahnya di media sosial mengenai minimnya perhatian pemerintah terhadap inovasinya. Sejak 2017, Toni telah berinovasi mengubah sampah plastik menjadi paving block dengan mesin rakitannya sendiri. Meskipun karyanya telah lolos uji lab (uji tekan, bakar, dan abrasi) dan Bank Sampahnya meraih predikat terbaik keempat se-Indonesia, Toni merasa upayanya terhenti dan ia mengeluh bahwa pemerintah daerah hanya memberikan larangan dan aturan tanpa dukungan nyata.

Dalam pertemuannya dengan KDM, Toni menunjukkan bukti pengorbanannya terhadap lingkungan. Ia merelakan bengkelnya yang semula beromzet menjadi gudang sampah dan mengubah belakang rumahnya menjadi Knowledge Center (pusat pengetahuan) dan Bank Sampah. Toni mengakui memiliki pasar dan permintaan dari developer besar, namun ia tidak sanggup memproduksi secara massal karena keterbatasan skala UMKM dan kekhawatiran terhadap regulasi yang tidak jelas.

KDM, yang dikenal menyukai pendekatan praktis, langsung menantang balik Toni yang ia nilai berani di media sosial tetapi ragu dalam bertindak. KDM menegaskan bahwa ia lebih menghargai masyarakat yang mampu “bertahan hidup” (survive) secara mandiri dibandingkan mereka yang bergantung pada bantuan pemerintah. Untuk itu, KDM menolak memberi bantuan dalam bentuk hibah semata, melainkan mengajukan skema bisnis langsung dengan membeli produk Toni dalam jumlah besar.

Sebagai pembeli pertama dalam skala besar, KDM memberikan tantangan bisnis senilai Rp50 juta yang dibayar di muka (DP). Dana ini harus digunakan Toni untuk membeli mesin cetak yang lebih mumpuni. Sebagai imbalannya, Toni harus mengirimkan produk paving block sebanyak 250 meter persegi kepada KDM. KDM bahkan menambahkan Rp25 juta lagi sebagai hibah murni untuk biaya operasional dan bahan baku produksi, di luar nilai pesanan Rp50 juta tersebut.

Di hadapan KDM, Toni terlihat gugup dan mengakui bahwa ia belum siap memenuhi pesanan besar secara mendadak karena membutuhkan waktu untuk mencari mesin dan membentuk tim produksi. Ia juga jujur bahwa amarahnya yang viral hanyalah sebuah “judul” yang ia gunakan untuk memancing perhatian pemerintah. Tujuan utamanya adalah mewakili para pegiat lingkungan lain yang sering merasa perjuangannya berakhir di seminar dan FGD tanpa tindak lanjut nyata.

KDM mengakhiri pertemuan dengan desakan agar Toni bersikap realistis. Ia menolak gagasan Toni untuk langsung men support inovator lain sebelum Toni sendiri membuktikan kesuksesannya. KDM berjanji akan menggunakan paving block Toni untuk proyek pembangunan jalan di sawahnya dan, jika berhasil, ia siap memesan hingga 5 kilometer untuk program desa di Jawa Barat. KDM menegaskan bahwa ia hanya akan mentransfer dana Rp75 juta ketika Toni sudah benar-benar siap dengan mesin dan timnya.

Poin-Poin Utama: KDM Beri Tantangan

  • Inovasi: Mengubah sampah plastik menjadi paving block dengan mesin rakitan sendiri.
  • Apresiasi: Bank Sampah yang didirikannya meraih predikat terbaik keempat se-Indonesia.
  • Keluhan: Merasa diabaikan dan terhambat oleh pemerintah daerah, meskipun produknya teruji dan permintaannya ada.
  • Motivasi Viral: Amarah di media sosial adalah “judul” untuk menarik perhatian bagi para pegiat lingkungan lain yang diwakilinya.
  • Sikap KDM: Lebih menyukai masyarakat yang survive dan mandiri; menantang amarah Toni dengan tindakan nyata.
  • Skema Dukungan: Jual beli dengan pembayaran di muka (DP), bukan hibah semata.
  • Pesanan Pertama:
       – Nilai: Rp50.000.000 (untuk pembelian mesin produksi).
       – Imbalan Produk: 250 meter persegi paving block.
  • Bantuan Tambahan: Hibah biaya produksi sebesar Rp25.000.000 (di luar nilai pesanan).
  • Proyeksi Masa Depan: Jika produk Toni berhasil diuji, KDM siap memesan hingga 5 kilometer untuk program pembangunan jalan desa.
  • Hambatan Toni: Toni mengakui belum siap memproduksi massal karena keterbatasan mesin dan perlu waktu untuk membentuk tim.
  • Keputusan KDM: Tidak akan mentransfer dana sebelum Toni siap dengan mesin dan timnya. KDM mendesak Toni untuk fokus pada keberhasilannya sendiri sebelum memikirkan program untuk orang lain.