AYAH MENINGGAL – IBU ALAMI DEPRESI | TIAP HARI BERLARI – GANTIAN SERAGAM PRAMUKA
Kisah dua bersaudara, Haikal Farizi (siswa SMK) dan Haizar (siswa SMP) dari Bojong Indah, Parung, Bogor, menjadi sorotan publik setelah kesulitan mereka tersebar di media sosial. Dua remaja ini terpaksa menjalani hari dengan kondisi yang serba terbatas setelah ayah mereka meninggal dunia, dan ibu mereka mengalami depresi (gangguan kejiwaan) karena duka mendalam. Beban hidup yang berat ini memaksa mereka untuk tinggal di rumah kontrakan bersama nenek, menggantungkan hidup pada belas kasihan keluarga besar.
Di tengah keterbatasan itu, terungkap fakta mengharukan bahwa Haikal dan Haizar hanya memiliki satu set seragam Pramuka yang harus dipakai secara bergantian. Haikal, yang memiliki jadwal sekolah pagi (SMK), akan memakainya terlebih dahulu. Setelah pulang, ia harus segera memberikan seragam itu kepada adiknya, Haizar, yang bersekolah siang (SMP). Walaupun jadwal yang berbeda ini memungkinkan mereka untuk berbagi, tindakan ini menjadi simbol perjuangan mereka untuk tetap menempuh pendidikan di tengah ketiadaan.
Ironisnya, kisah pilu ini menjadi viral di media sosial setelah divideo oleh salah satu donatur dengan tujuan dokumentasi, namun kemudian disebarluaskan, sebuah fenomena yang dikritik oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM). KDM mengecam praktik memviralkan kesulitan orang lain alih-alih memberikan bantuan cepat. Namun, KDM mengakui bahwa terlepas dari viralitasnya, semangat Haikal dan Haizar untuk tetap sekolah meski harus berbagi seragam adalah sebuah hal yang patut dibanggakan.
Dalam kunjungannya, KDM memastikan bahwa secara finansial dasar, kedua anak ini masih tertolong. Mereka mendapatkan tunjangan harian sebesar Rp10.000 dari paman dan bibi (Anta/Ua), serta biaya kontrakan yang dibayarkan oleh kerabat. Namun, KDM ingin memberikan solusi permanen. Ia secara resmi mengangkat Haikal dan Haizar sebagai anak asuhnya, menjamin mereka akan mendapatkan santunan bulanan hingga keduanya menyelesaikan sekolah.
Sebagai bentuk bantuan awal, KDM menyerahkan bantuan tunai sebesar Rp2 juta kepada Haikal dan Haizar. KDM juga memberikan nasihat agar mereka tidak terlena dengan bantuan. KDM mendorong Haikal, yang mengambil jurusan teknik sepeda motor (TBSM), untuk memanfaatkan keahliannya dengan mencari pekerjaan sampingan di bengkel terdekat, bahkan jika harus dimulai dari sukarelawan tanpa dibayar, untuk membangun kemandirian.
Melalui kisah ini, KDM berharap Haikal dan Haizar, serta anak-anak lain, dapat mengambil pelajaran penting: bahwa kemiskinan dan penderitaan tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. KDM ingin mereka mengubah kekurangan menjadi energi dan jati diri yang kuat, menjadi anak-anak hebat yang optimis dan mandiri, serta mampu menjamin diri mereka sendiri di masa depan.
Poin-Poin Utama
- Latar Belakang Keluarga: Ayah meninggal dunia, dan Ibu mengalami depresi/gangguan kejiwaan.
- Kondisi Hidup: Mereka tinggal di rumah kontrakan bersama nenek dan didukung secara finansial oleh paman dan bibi.
- Masalah Utama: Haikal (SMK) dan Haizar (SMP) hanya memiliki satu seragam Pramuka dan harus memakainya bergantian (tukeran).
- Respons KDM: KDM mengangkat Haikal dan Haizar sebagai anak asuh dan berjanji akan mengirimkan santunan bulanan.
- Bantuan Langsung: KDM memberikan bantuan tunai sebesar Rp2 juta sebagai modal awal.
- Pesan KDM: KDM berpesan agar mereka tetap mandiri, memanfaatkan keahlian (jurusan mekanik), dan tidak menyerah pada keadaan, melainkan mengubah penderitaan menjadi kekuatan.



