BANTARAN SUNGAI DITUTUPI BANGUNAN LIAR | ALIRAN AIR TERHENTI – SAWAH KEKERINGAN

Karawang – Gubernur Dedi Mulyadi kembali melakukan inspeksi lapangan, kali ini menyoroti permasalahan serius di Karawang: pembangunan liar yang menutupi bantaran sungai. Akibatnya, aliran air terhambat, menyebabkan puluhan hektar sawah kekeringan. KDM pun geram dan berjanji akan menindak tegas para oknum serta menormalisasi kembali saluran air untuk menyelamatkan ketahanan pangan.

Dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi meninjau langsung lokasi di mana bangunan-bangunan liar berdiri di atas saluran irigasi. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pipa-pipa beton dan konstruksi lain menghalangi laju air, yang seharusnya mengairi sawah-sawah di sekitarnya. “Ini kenapa bikin rumahnya di atas saluran?” tanya KDM dengan nada tegas.

Para petani dan warga setempat mengeluhkan masalah ini sudah berlangsung lama. Mereka menjelaskan bahwa saluran air, yang menjadi urat nadi pertanian, kini tidak berfungsi optimal karena tertutup bangunan. Akibatnya, sawah-sawah mereka tidak mendapatkan pasokan air yang cukup, menyebabkan gagal panen dan kerugian besar.

Dedi Mulyadi juga menemukan adanya praktik sewa garapan tanah pengairan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Warga mengaku membeli garapan dari oknum pengairan, lalu mendirikan bangunan di atasnya. Padahal, tanah tersebut adalah aset negara yang seharusnya bebas dari bangunan untuk kelancaran irigasi.

KDM menegaskan bahwa bangunan-bangunan liar di bantaran sungai ini harus dibongkar dan saluran air dinormalkan kembali. Ia berjanji akan menghantam siapa pun yang mencoba menghalangi upaya normalisasi ini, termasuk oknum-oknum yang terlibat dalam jual beli garapan. “Semua akan kita kembalikan normalisasi,” tegasnya.

Gubernur Dedi Mulyadi juga berdialog dengan kepala desa setempat. Ia menekankan pentingnya menjaga ketahanan pangan dan tidak mengorbankan lahan pertanian demi kepentingan pribadi. KDM meminta agar kepala desa berani menindak bangunan-bangunan liar dan mendukung penuh upaya pemerintah dalam normalisasi saluran air.

Untuk menyelesaikan masalah ini, Dedi Mulyadi berjanji akan merelokasi warga yang terkena dampak pembongkaran. Ia akan menyediakan lahan baru dan membangun rumah bedeng yang rapi dan tertata untuk mereka. Namun, ia juga menegaskan bahwa bantuan ini hanya untuk warga miskin, bukan untuk perusahaan atau gudang yang didirikan secara ilegal.

Kunjungan Gubernur Dedi Mulyadi ini menjadi secercah harapan bagi para petani. Dengan ketegasan dan komitmennya, diharapkan saluran air bisa kembali lancar, sawah bisa subur, dan ketahanan pangan di Jawa Barat tetap terjaga.

Poin-Poin Utama:

  • BANTARAN SUNGAI DITUTUPI BANGUNAN LIAR: Banyak bangunan liar berdiri di atas bantaran sungai, menghalangi aliran air.
  • ALIRAN AIR TERHENTI: Saluran irigasi vital macet, menyebabkan sawah-sawah kekeringan.
  • SAWAH KEKERINGAN: Petani mengalami kerugian besar akibat gagal panen.
  • KDM TURUN TANGAN: Gubernur Dedi Mulyadi melakukan inspeksi dan berjanji akan menindak tegas.
  • OKNUM TERLIBAT: Ditemukan praktik sewa garapan tanah pengairan oleh oknum.
  • NORMALISASI SALURAN: KDM menegaskan pembongkaran bangunan dan normalisasi saluran air.
  • RELOKASI WARGA: Pemerintah akan menyediakan lahan dan membangun rumah untuk warga terdampak.
  • KOMITMEN PANGAN: KDM menekankan pentingnya menjaga ketahanan pangan.