TUTUP GALIAN TANAH ILEGAL | KDM BERSITEGANG DENGAN KORLAP | UJUNGNYA HAPPY

Subang – Gubernur Dedi Mulyadi kembali turun langsung ke lapangan untuk menertibkan galian tanah ilegal yang meresahkan masyarakat. Dalam aksinya, ia sempat bersitegang dengan koordinator lapangan (korlap) yang berusaha membela diri. Namun, ketegangan itu berakhir dengan solusi cerdas dan memberikan harapan baru bagi semua pihak, menunjukkan bahwa masalah publik bisa diselesaikan tanpa kekerasan.

Dedi Mulyadi datang ke lokasi setelah menerima laporan tentang maraknya galian tanah tanpa izin. Ia berang karena aktivitas tersebut tidak hanya merusak jalan yang dibangun dengan uang rakyat, tetapi juga tidak membayar pajak. KDM menegaskan bahwa jalan adalah fasilitas negara dan tidak boleh dirusak oleh kegiatan bisnis ilegal.

Saat Dedi Mulyadi menghentikan truk-truk pengangkut tanah, seorang koordinator lapangan, yang mengaku warga setempat, datang untuk membela diri. Warga tersebut berdalih bahwa galian ini dilakukan untuk kebaikan warga, karena memberikan lapangan pekerjaan. Ia juga mengklaim bahwa mereka sedang mengurus izin, tetapi prosesnya berbelit-belit dan memakan waktu hampir dua tahun.

Terjadilah perdebatan sengit. Dedi Mulyadi dengan tegas membantah argumen Warga yang mengaku Korlap tersebut. Ia mengatakan bahwa keuntungan besar dari kegiatan ini justru dinikmati oleh perusahaan besar seperti Agung Podomoro, sementara warga hanya mendapatkan upah kecil dan harus menanggung kerusakan jalan. KDM mengingatkan bahwa ada banyak cara lain untuk mencari nafkah tanpa harus merusak lingkungan.

Ketegangan itu tidak berlangsung lama. Dedi Mulyadi memberikan solusi yang tidak pernah terpikirkan oleh pihak galian. Ia tidak hanya menghentikan operasi ilegal, tetapi juga menawarkan jalan keluar agar mereka bisa beroperasi secara legal dan bertanggung jawab. Ia menyarankan agar dibuatkan sebuah Nota Kesepahaman (MOU).

Dalam MOU tersebut, perusahaan yang terlibat harus menghitung volume tanah yang diangkut dan membayar pajaknya. Dana yang terkumpul dari pajak tersebut kemudian akan digunakan untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak. Dengan demikian, kegiatan bisnis bisa berjalan, dan masyarakat tidak dirugikan.

Selain itu, Dedi Mulyadi juga memastikan bahwa galian tersebut tidak hanya meninggalkan lubang, tetapi juga akan dikonversi menjadi lahan produktif seperti sawah. Rencana ini harus dipertanggungjawabkan dan diawasi dengan ketat.

Di akhir perdebatan, Dedi Mulyadi menjanjikan akan memfasilitasi pertemuan antara perusahaan, pemerintah daerah, dan pihak galian untuk membahas detail MOU. Ia bahkan meminta nomor telepon Lamhot sebagai pemilik usaha agar mereka bisa berkoordinasi.

Situasi yang tadinya tegang berubah menjadi damai. Lamhot bersedia mengikuti saran Dedi Mulyadi. Keduanya berjabat tangan dan berfoto bersama. Seorang warga bernama Dede juga menyampaikan rasa terima kasihnya karena jalan yang rusak kini akan diperbaiki, terutama saat musim hujan.

Kisah ini berakhir dengan bahagia, tidak hanya karena masalah galian teratasi, tetapi juga karena Dedi Mulyadi menemukan solusi lain untuk membantu warga. Ia juga berjanji akan membantu Mang Otoy, seorang warga yang rumahnya terancam roboh.

___

  • Tutup Galian Tanah Illegal: Dedi Mulyadi menghentikan operasi galian tanah tanpa izin.
  • KDM Bersitegang Dengan Korlap: Terjadi perdebatan sengit antara Dedi Mulyadi dan koordinator lapangan (korlap) yang membela diri.
  • Ujungnya Happy: Ketegangan berakhir dengan solusi yang menguntungkan semua pihak, berupa MOU yang akan mengatur pembayaran pajak dan perbaikan jalan.
  • Aksi Tambahan KDM: Dedi Mulyadi juga berjanji akan membantu seorang warga yang rumahnya terancam roboh.
  • Warga Terbantu: Warga mengapresiasi tindakan KDM karena jalan yang rusak akan diperbaiki.