KDM MENERIMA CURHATAN ORGANDA – PENGUSAHA BUS PARIWISATA DAN PHRI JABAR
Bandung – Gubernur Dedi Mulyadi kembali berdialog langsung dengan perwakilan dari berbagai sektor, kali ini dari kalangan pengusaha transportasi dan pariwisata. Dalam sebuah pertemuan yang penuh dengan curahan hati, perwakilan dari Organda (Organisasi Angkutan Darat), pengusaha bus pariwisata (IPOBA), Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat(SP3JB), dan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Jawa Barat menyampaikan keluhan mereka terkait dampak kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Mereka mengungkapkan bahwa kebijakan yang ada telah menyebabkan sektor mereka mengalami penurunan omzet yang signifikan dan bahkan berpotensi mengancam keberlangsungan bisnis mereka.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Organda Jawa Barat menyoroti kenaikan pajak hingga 100% yang sangat membebani. Mereka mengeluhkan penurunan drastis dalam pendapatan, yang membuat para pengusaha bus kesulitan membayar cicilan kendaraan. Senada, perwakilan dari SP3JB dan IPOBA mengungkapkan dampak langsung dari kebijakan surat edaran gubernur yang melarang kegiatan study tour. Mereka menyebutkan penurunan omzet hingga 40% dan banyak sopir serta kernet yang kini kehilangan pekerjaan, bahkan mengalami masalah keluarga akibat kesulitan ekonomi.
Ketua PHRI Jawa Barat juga memaparkan dampak yang tak kalah parah di sektor perhotelan. Mereka melaporkan penurunan tingkat hunian hotel yang drastis, dari rata-rata 85% menjadi 41%. Penurunan ini menyebabkan kerugian besar, terutama bagi hotel bintang tiga ke bawah. Kondisi ini memaksa para pemilik hotel untuk mengurangi jam kerja karyawan agar bisnis mereka tetap bisa bertahan di tengah situasi yang sulit.
Menanggapi keluhan tersebut, Gubernur Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa kebijakan yang ia terapkan, seperti larangan study tour dan penjualan seragam di sekolah, bertujuan untuk mengurangi beban finansial orang tua. Ia juga memaparkan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya besar untuk mengubah ekonomi Jawa Barat dari konsumtif menjadi produktif. Ia membagikan kisah tragis seorang siswa yang meninggal saat berusaha mencari uang untuk biaya karyawisata, yang semakin membulatkan tekadnya untuk mengambil kebijakan yang mungkin tidak populer namun bermanfaat bagi banyak orang.
Di akhir pertemuan, Gubernur Dedi Mulyadi dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak peduli dengan popularitas. Ia siap menghadapi kritik demi kesejahteraan 54 juta rakyat Jawa Barat. Ia percaya bahwa solusi jangka panjang untuk mengatasi kemiskinan dan masalah sosial membutuhkan kebijakan yang berani, meskipun pada awalnya terasa sulit bagi sebagian pihak. Dialog ini menjadi cerminan bahwa pemimpin harus mampu mendengarkan, namun juga harus berani mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan rakyat secara keseluruhan.
___
- Pihak yang berdiskusi: Perwakilan dari Organda, pengusaha bus pariwisata (IPOBA), Solidaritas Pekerja Pariwisata (SP3JB), dan PHRI Jawa Barat.
- Masalah Organda & Bus Pariwisata: Kenaikan pajak 100% dan penurunan omzet drastis akibat larangan study tour, yang menyebabkan banyak sopir kehilangan pekerjaan.
- Masalah PHRI Jabar: Tingkat hunian hotel anjlok dari 85% menjadi 41%, menyebabkan kerugian besar.
- Alasan Kebijakan KDM: Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa kebijakan tersebut untuk mengurangi beban orang tua dan mendorong ekonomi produktif.
- Kisah Inspirasi: KDM menceritakan kisah seorang siswa yang meninggal saat mencari uang untuk study tour, yang menjadi dasar baginya untuk mengambil kebijakan tersebut.
- Ketegasan KDM: Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa ia tidak peduli dengan popularitas dan siap mengambil kebijakan yang sulit demi kesejahteraan rakyat.



