BERANGKAT DARI GEDUNG PAKUAN | KDM DISAMBUT BENTANGAN POSTER WARGA KOTA BANDUNG
Bandung – Sebuah momen kemanusiaan yang mengharukan mengawali hari penting bagi Gubernur Dedi Mulyadi. Ketika melangkah keluar dari Gedung Pakuan, ia disambut oleh sekelompok masyarakat yang membentangkan spanduk berisi permohonan bantuan pengobatan. Tanpa ragu, Dedi Mulyadi langsung merespons dengan memberikan jaminan pengobatan gratis di Rumah Sakit Welas Asih, meskipun keluarga tersebut tidak memiliki BPJS. Tindakan spontan ini menunjukkan bahwa kepeduliannya melampaui birokrasi, menjadi bukti nyata kehadirannya untuk rakyat.
Setelah itu, Gubernur Dedi Mulyadi langsung menghadiri Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jawa Barat dalam rangka Hari Jadi ke-80 Jawa Barat. Acara ini dihadiri oleh jajaran lengkap pimpinan, mulai dari Wakil Gubernur Erwan Setiawan, Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Buky Wibawa, hingga para anggota DPR RI seperti Atalia Praratya dan Rieke Diah Pitaloka. Turut hadir pula para mantan Gubernur, Wakapolda, Wakajati, para kepala daerah, serta perwakilan dari seluruh elemen masyarakat se-Jawa Barat.
Dalam pidatonya yang menggugah, Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pembangunan adalah ritme sejati antara keselarasan manusia, tanah, air, udara, dan matahari. Ia menggambarkan keindahan Tanah Sunda yang memiliki gunung yang menjulang, air yang mengalir, sawah yang terhampar luas, serta lautan dan samudra. Menurutnya, seluruh kekayaan alam ini adalah modal spiritual dan fisik yang harus dijaga dan dihidupi, bukan sekadar dieksploitasi.
Gubernur juga menyoroti pentingnya kembali pada akar budaya. Ia mengutip naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang mengisahkan tentang “Tri Tangtu di Buana”, yaitu “gunung kudu awian, lengkop kudu balongan, lebak kudu sawahan.” Ia mengkritik pembangunan yang hanya didasarkan pada pola pikir teknokratik dan mengabaikan nilai-nilai masa lalu. Ia menegaskan bahwa seluruh nilai itu harus menjadi pijakan untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
Untuk menggambarkan kegagalan pembangunan yang meninggalkan rakyat, Dedi Mulyadi memaparkan kisah pilu seorang anak bernama Raya, berusia 4 tahun dari Sukabumi. Anak yang ibunya ODGJ dan ayahnya TBC itu meninggal di rumah sakit, dengan kondisi memprihatinkan. Kisah ini menjadi tamparan keras bahwa di balik gegap gempita pembangunan, masih ada derita mendalam yang harus menjadi perhatian utama para pemimpin.
Lebih lanjut, Gubernur Dedi Mulyadi menekankan falsafah Sunda Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh sebagai landasan interaksi sosial. Ia juga memperkenalkan konsep “Panca Waluya” yang menjadi cerminan manusia Sunda sejati. Panca Waluya mencakup lima nilai utama: Cageur (sehat), Bageur (baik), Bener (jujur), Pinter (cerdas), dan Singer (cekatan). Ia berpesan bahwa pembangunan harus dilandasi oleh karakter yang kuat, yang merupakan kunci dari Gerbang Panca Waluya.
Di akhir pidatonya, Gubernur Dedi Mulyadi menggarisbawahi bahwa pembangunan yang tangguh tidak hanya mengandalkan saringsetnya iket, tetapi kekuatan kancing yang caringcing. Ia menegaskan bahwa kerangka ini harus menjadi pijakan utama, agar manusia Jawa Barat adalah manusia yang “kaluhur sihungan ka handap akaran”—memiliki wawasan luas sekaligus berakar kuat pada bumi.
__
- Bantuan Pengobatan: Gubernur Dedi Mulyadi memberikan bantuan pengobatan di Rumah Sakit Welas Asih kepada warga tanpa menggunakan BPJS.
- Acara: Pidato Dedi Mulyadi disampaikan pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jawa Barat dalam rangka Hari Jadi ke-80 Jawa Barat.
- Filosofi Pembangunan: Pembangunan harus didasarkan pada keselarasan antara manusia dan alam, bukan hanya teknokratis.
- Nilai Budaya: Dedi Mulyadi mengutip naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian dan konsep Tri Tangtu di Buana sebagai landasan pembangunan.
- Kisah Pilu: Ia menyoroti kegagalan pembangunan dengan menceritakan kisah tragis seorang anak bernama Raya yang meninggal karena kelalaian.
- Konsep Panca Waluya: Ditekankannya pembangunan karakter berdasarkan lima nilai: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.
- Pesan Akhir: Pembangunan harus kokoh seperti kancing yang caringcing, dengan manusia Jawa Barat yang “kaluhur sihungan ka handap akaran.”



