Soroti Perang Timur Tengah, Dedi Mulyadi Ajak Anak Muda Kuasai Sains dan Teknologi: “Kemajuan Diraih dengan Keringat, Bukan Tangisan”

Bandung – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan pesan reflektif kepada masyarakat di tengah memanasnya situasi perang di kawasan Timur Tengah. Dalam pernyataannya pada Minggu pagi, ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan kondisi global tersebut sebagai momentum memperkuat pendidikan sains dan teknologi.

“Perang di Timur Tengah berkecamuk. Hati kita seperti remuk, karena dunia sedang tidak baik-baik saja. Tetapi yakinlah bahwa kebenaran akan menemukan jalannya. Cahayanya tidak akan pernah padam dan sirna, meski mesiu bergemuruh dalam setiap waktu,” ujar Dedi.

Ia membuka pesannya dengan menyapa masyarakat lintas agama yang tengah menjalankan aktivitas akhir pekan. Dedi juga menyampaikan ucapan selamat beribadah kepada umat Kristiani yang melaksanakan kebaktian Minggu.

Menurutnya, situasi konflik global harus menjadi bahan pembelajaran agar bangsa Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan kemajuan dunia.

Dorong Penguatan Sains dan Teknologi

Dedi menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan alam dan teknologi sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ia menyebut, anak-anak Indonesia harus didorong untuk lebih serius menekuni bidang-bidang strategis.

“Saatnya anak-anak kita dituntut dalam setiap waktu menekuni ilmu pengetahuan alam. Belajar matematika, fisika, kimia, biologi, dan teknologi informasi. Itu prasyarat menuju kemajuan,” katanya.

Ia menambahkan, kemajuan suatu bangsa lahir dari para ilmuwan dan tenaga ahli di bidang sains serta teknik. Fisikawan, matematikawan, ahli biologi, hingga para insinyur, disebutnya sebagai penggerak utama roda pembangunan dan inovasi.

“Kemajuan akan diraih dengan munculnya fisikawan dan ahli-ahli matematika serta biologi. Kaum insinyur adalah penggerak dari roda kemajuan,” tegasnya.

Tinggalkan Pola Manja, Kejar Mimpi dengan Kerja Keras

Dalam pesannya, Dedi juga mengingatkan agar generasi muda meninggalkan pola hidup yang terlalu bergantung dan kurang disiplin. Ia mendorong lahirnya karakter pekerja keras yang berorientasi pada prestasi.

“Saatnya kemanjaan kita tinggalkan bagi anak-anak kita. Meraih mimpi dengan keringat, bukan dengan tangisan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi ajakan reflektif di tengah dinamika global yang penuh tantangan. Dedi berharap, di tengah situasi dunia yang tidak menentu, Indonesia tetap fokus membangun kualitas sumber daya manusia sebagai kunci masa depan bangsa.

sumber: https://www.tiktok.com/@dedimulyadiofficial/video/7612082821921819911