Gubernur KDM di Rajapolah Tasikmalaya: “Religius Itu Bukan Cuma di Masjid, Tapi Saat Rakyat Tak Lagi Lapar”
TASIKMALAYA – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) melakukan kunjungan ke Rajapolah, Tasikmalaya, dalam rangkaian acara di bulan Ramadhan yang disambut meriah oleh ribuan warga. Dalam kesempatan tersebut, KDM memberikan pesan mendalam mengenai esensi kepemimpinan dan makna provinsi religius yang sesungguhnya.
KDM hadir didampingi oleh ulama kenamaan Gus Muwafiq, yang disebutnya sebagai sosok kiai dengan landasan filosofi dan histori yang kuat untuk membangun masa depan Jawa Barat.
Kritik Makna “Provinsi Religius”
Dalam orasinya, KDM melontarkan kritik terhadap label “Provinsi Religius” yang sering disematkan pada Jawa Barat. Menurutnya, label tersebut tidak ada artinya jika realitas sosial di masyarakat masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
“Saya tidak mau menyebut Jawa Barat sebagai provinsi religius kalau kehidupan rakyatnya belum religius. Religiusnya seorang gubernur bukan cuma sehari semalam di masjid, tapi manakala rakyatnya terbebas dari rasa lapar, anak-anak bisa sekolah gratis, rumah sakitnya terbuka melayani selurih masyarakat, jalanan halus, dan petani bahagia karena hasil panennya dibeli mahal,” tegas KDM.
Ia juga menyentil fenomena sosial yang kontradiktif dengan label religius tersebut, seperti maraknya kawin kontrak, LGBT, tawuran, hingga warga yang terpaksa menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di NTT hanya demi memenuhi kebutuhan hidup.
Misi Penjemputan 12 Warga di NTT
KDM menceritakan pengalamannya menjemput 12 warga Jawa Barat yang bekerja di tempat hiburan malam di NTT. Ia merasa harga diri Jawa Barat terluka ketika melihat warganya terjerat hutang dan kesulitan pulang di tanah perantauan.
“Hade goreng rakyat sorangan (baik buruk rakyat sendiri). Menyakitkan bagi saya sebagai gubernur ketika melihat rakyat kita dihina di tempat orang. Itulah alasan saya menjemput mereka, karena mereka adalah anak-anak kita yang harus dilindungi,” ujarnya.
Visi Pembangunan: Utamakan Infrastruktur Publik
KDM menjelaskan alasan mengapa ia fokus pada pembangunan jalan, sekolah, dan drainase. Baginya, pemimpin harus bisa membahagiakan orang banyak melalui fasilitas yang digunakan bersama secara gratis dan berkualitas.
“Kenapa bangun jalan dan sekolah dulu? Karena itu dipakai oleh semua orang. Pemimpin memang tidak bisa membahagiakan semua individu satu per satu, tapi minimal bisa membahagiakan orang banyak melalui infrastruktur publik yang baik,” kata KDM. Ia juga berjanji untuk mulai memperbaiki jalan-jalan desa yang selama ini kehilangan anggaran infrastruktur.
Refleksi Puasa: Konsumerisme vs Spiritual
Menjelang Idul Fitri, KDM mengajak warga untuk merefleksikan kembali makna puasa. Ia merasa heran mengapa harga kebutuhan pokok seperti gula dan kelapa justru naik saat puasa, padahal esensi puasa adalah mengurangi konsumsi dan menahan diri dari sifat berlebihan.
“Puasa kita ini seringkali kehilangan esensi. Bukannya makin sehat, habis lebaran rumah sakit malah penuh karena kadar gula dan kolesterol naik. Itu artinya kita tidak berpuasa, tapi hanya memindahkan jam makan dengan porsi yang lebih banyak,” tuturnya. Ia bahkan bermimpi suatu saat ada kampung di Jawa Barat yang berani melakukan tradisi “Nyepi” seperti di Bali saat malam-malam puasa untuk meningkatkan nilai spiritualitas.
Komitmen Jaga Alam untuk Anak Cucu
Di akhir pesannya, KDM menegaskan komitmennya untuk menindak tegas pertambangan dan penebangan liar di Jawa Barat. Ia memposisikan dirinya bukan sebagai pewaris alam, melainkan pemegang titipan untuk anak cucu di masa depan.
“Saya menutup pertambangan ilegal dan menghentikan penebangan hutan karena kita diberi titipan, bukan warisan. Kita harus mengatur kekayaan alam agar tetap bisa dirasakan oleh generasi mendatang,” pungkasnya.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=M0zMf4VZxDc



