Setahun Pimpin Jabar, KDM: “Saya Tidak Pentingkan Absensi ASN, yang Penting Produk Kinerjanya Ada”
SUBANG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menegaskan orientasi kepemimpinannya yang menitikberatkan pada hasil nyata atau output ketimbang urusan administratif formal seperti absensi pegawai. Hal itu disampaikan KDM dalam acara buka puasa bersama penggerak pembangunan Jawa Barat yang diunggah melalui kanal YouTube Lembur Pakuan pada Selasa (25/2/2026).
Memasuki satu tahun masa jabatannya, KDM meminta jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengubah pola pikir dari sekadar menggugurkan kewajiban menjadi pemberi solusi bagi masyarakat.
Lelang Transparan: “Jangan Layani yang Bawa Nama Saya”
KDM memberikan instruksi tegas terkait pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemprov Jabar. Ia meminta seluruh pejabat pembuat komitmen (PPK) dan unit lelang untuk bekerja profesional dan tidak terpengaruh oleh tekanan pihak manapun, termasuk yang mengatasnamakan dirinya.
“Kegiatan lelang pengadaan barang dan jasa, Ibu dan Bapak tegak lurus saja. Pilih yang terbaik, yang terbukti dan teruji bisa bekerja dengan baik. Andai kata ada yang membawa nama saya, siapapun itu, jangan dilayani. Titik,” tegas KDM.
Arah Peradaban: Transportasi Setara Jepang dan Sungai Seperti Korea
Dalam visi pembangunannya, KDM ingin membawa Jawa Barat menuju standar peradaban yang lebih tinggi. Ia menargetkan infrastruktur jalan provinsi tidak hanya sekadar mulus, tetapi lengkap dengan drainase, lampu penerangan jalan umum (PJU), CCTV, hingga halte yang estetik.
“Saya ingin kita setara dengan Jepang dalam berlalu lintas. Jalan tertata, kios-kios di pinggir jalan dirombak dengan arsitektur Sunda, dan tidak ada lagi pedagang yang ‘mengetok’ harga ke wisatawan,” ujarnya. Selain itu, ia menginstruksikan Dinas Sumber Daya Air (PSDA) untuk menyulap bantaran sungai menjadi area jogging yang bersih, mengadopsi konsep penataan sungai di Korea Selatan.
Transformasi RSUD: Hilangkan Kesan Seram
Sektor kesehatan juga menjadi sorotan. KDM menginginkan RSUD milik provinsi tidak lagi menjadi tempat yang menyeramkan. Ia meminta manajemen rumah sakit mengadopsi standar layanan rumah sakit swasta kelas atas, mulai dari pembenahan Unit Gawat Darurat (UGD) yang harus cepat dan terang, hingga penggantian fasilitas yang sudah usang.
“Jangan ada lagi belangkar (tandu) yang karatan atau kursi roda yang jelek. IGD itu perjumpaan pertama, harus bersih dan indah. Bila perlu pasang foto-foto yang cantik dan bunga-bunga agar pasien punya semangat hidup, bukan malah stres melihat dinding rumah sakit,” kata KDM.
Stimulus Ekonomi Lokal melalui Bambu
KDM juga menginstruksikan agar pengadaan fasilitas sekolah, seperti meja dan kursi, mulai beralih menggunakan material bambu guna menjaga ekosistem hutan kayu di Jawa Barat. Meski secara harga mungkin lebih mahal, ia menilai hal itu merupakan stimulus ekonomi bagi pengrajin lokal di daerah seperti Sukabumi dan Garut.
“Anggaran 28-31 triliun itu harus jadi stimulus ekonomi. Saya jarang ke luar daerah agar uang saya pun beredarnya di Jawa Barat saja,” imbuhnya.
Kinerja di Atas Formalitas
Menutup arahannya, KDM kembali menekankan bahwa ia tidak peduli apakah seorang ASN rajin apel atau tidak, selama target kinerja seperti penurunan angka kemiskinan, pengangguran, dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tercapai.
“Saya tidak penting Anda masuk kantor atau tidak, yang penting bagi saya adalah produk Anda apa. Lebih baik ‘tiada’ di kantor tapi ‘ada’ hasilnya, daripada ‘ada’ di kantor tapi cuma main game dan memboroskan listrik serta internet,” pungkasnya .
Menurut data yang ia paparkan, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pembangunan Jawa Barat saat ini mencapai 95,5 persen, sebuah angka yang ia sebut sebagai bukti bahwa masyarakat merasakan kehadiran pemerintah melalui pembangunan jalan dan layanan publik lainnya.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=xgEpJjnVNIs



