Gubernur KDM di Hari Jadi Kota Banjar: Singgung Estetika Kantor, Kurikulum Karakter 2026, hingga Penyelamatan Korban TPPO
BANJAR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menghadiri Rapat Paripurna Hari Jadi Kota Banjar dengan gaya kepemimpinan khasnya yang ceplas-ceplos namun sarat substansi. Dalam kunjungannya pada Minggu (22/2/2026), KDM tidak hanya memberikan selamat, tetapi juga melontarkan kritik tajam terhadap estetika perkantoran pemerintah hingga memaparkan kebijakan strategis Jawa Barat untuk tahun-tahun mendatang.
Pertemuan tersebut menjadi panggung bagi KDM untuk menekankan pentingnya identitas budaya dan ketegasan dalam memimpin guna mewujudkan masyarakat Jawa Barat yang mandiri.
Kritik Estetika: Karpet “Warung Kopi” dan Kantor Tanpa Identitas
Dalam pidatonya, KDM secara spontan mengkritik kondisi ruang rapat paripurna DPRD Kota Banjar. Ia menilai banyak gedung pemerintahan di Jawa Barat kehilangan nilai estetika dan jati diri budaya.
“Saya bingung melihat gedung kantor kita, rata-rata tidak punya nilai estetika. Karpetnya dekil, sudah seperti karpet di warung kopi. Saya sumbang karpet baru nanti agar bersih,” ujar KDM disambut tawa hadirin. Ia juga menyoroti tata letak TV yang tidak pas serta kebiasaan menempel pengumuman di tembok yang merusak cat gedung. Menurutnya, hal kecil seperti ini mencerminkan lemahnya rasa estetika dan disiplin yang berdampak pada citra daerah di mata wisatawan.
Kebijakan Pendidikan Karakter 2026-2027
KDM memaparkan rencana besar dalam Kurikulum 2026-2027 untuk jenjang SMA/SMK di Jawa Barat. Ia akan mewajibkan pakta integritas antara sekolah, orang tua, dan siswa dengan aturan yang sangat ketat.
“Tahun 2026, siswa dan orang tua harus menandatangani komitmen. Jika ada angkutan umum, siswa dilarang bawa motor ke sekolah. Tidak boleh pakai knalpot brong, tidak boleh merokok, dan tidak boleh keluyuran malam. Kalau melanggar, harus bersedia mundur dari sekolah,” tegas KDM. Kebijakan ini diambil untuk mengerem gaya hidup hedonis remaja yang seringkali membebani ekonomi orang tua melalui pinjaman online atau bank emok.
Misi Kemanusiaan: Jemput 13 Korban Kekerasan Seksual di NTT
Di tengah suasana perayaan, KDM mengungkapkan agenda mendadaknya untuk terbang ke Nusa Tenggara Timur (NTT) guna menjemput 13 warga Jawa Barat (asal Purwakarta, Cianjur, hingga Bandung) yang menjadi korban kekerasan seksual dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Ia merasa miris karena para korban tergiur iming-iming gaji besar di media sosial namun berakhir dalam kondisi mengenaskan. “Saya sedih melihat warga kita jadi korban karena ingin gaya hidup instan. Besok saya jemput mereka menggunakan Susi Air karena akses penerbangan yang sulit. Kita harus berterima kasih kepada suster di pelayanan gereja di sana yang telah membantu melindungi warga kita tanpa memandang perbedaan agama,” ungkapnya.
Infrastruktur dan Anggaran “Efisien”
Terkait pembangunan fisik, KDM menyatakan bahwa meski anggaran provinsi mengalami penurunan pendapatan hingga Rp 3 triliun akibat perubahan bagi hasil pajak, ia tetap mengalokasikan Rp 4,5 triliun untuk perbaikan jalan. Strategi yang digunakan adalah efisiensi birokrasi besar-besaran, mulai dari pemangkasan biaya perjalanan dinas hingga pengaturan listrik dan internet kantor.
“Gubernur jangan hanya duduk di kursi empuk menghabiskan AC. Saya lebih baik keliling, cari masalah, dan selesaikan langsung di lapangan. Rakyat memilih saya untuk menyejahterakan mereka, bukan untuk duduk manis,” katanya.
Sinergi Banjar dan Pangandaran
KDM juga mendorong Kota Banjar untuk menjadi “pintu gerbang” pariwisata menuju Pangandaran. Ia menyarankan agar Banjar membangun identitas sebagai pusat kuliner dan budaya agar wisatawan yang menuju pantai wajib singgah dan berbelanja di Banjar. Sebagai penutup, ia kembali mengingatkan para pemimpin daerah di Priangan Timur untuk menjaga kelestarian alam sebagai modal utama kemakmuran rakyat.



