Hadiri Natal Bersama di Depok, Dedi Mulyadi: Cinta Tanpa Kasih Adalah Kepalsuan

DEPOK – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menghadiri perayaan Natal bersama ribuan jemaat di Kota Depok, Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa Kang Dedi ini menyampaikan pesan mendalam mengenai toleransi, esensi beragama, hingga kritik terhadap ketimpangan struktur birokrasi di Indonesia.

Kehadiran Dedi Mulyadi disambut antusias oleh warga dan tokoh lintas agama. Ia menegaskan bahwa perayaan Natal bersama ini merupakan bukti sejarah baru bagi Kota Depok sebagai kota yang terbuka, toleran, dan penuh cinta kasih.

Esensi Cinta dan Kasih

Dalam orasi budayanya, Dedi Mulyadi menekankan bahwa seluruh inti dari ajaran agama adalah cinta. Namun, ia mengingatkan bahwa cinta tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindakan nyata atau kasih.

“Bicara cintanya luar biasa, tapi kenapa kasihnya jarang? Cinta tanpa kasih adalah sebuah kepalsuan. Seperti menikahi tapi tidak menafkahi, seperti masuk gereja tapi tidak mau menyisihkan hartanya untuk umat,” ujar Dedi di hadapan ribuan jemaat.

Sebagai bentuk nyata dari pesan “kasih” yang ia sampaikan, Dedi memberikan donasi spontan sebesar Rp 25 juta untuk kelompok anak-anak yang bernyanyi di acara tersebut, Rp 10 juta untuk yayasan anak yatim piatu, serta Rp 20 juta untuk kelompok paduan suara sebagai apresiasi atas dedikasi mereka.

Kritik Struktur Gaji ASN dan Keadilan Sosial

Selain bicara soal spiritualitas, Dedi Mulyadi juga melontarkan kritik tajam terhadap struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang dinilainya belum mencerminkan keadilan bagi pekerja lapangan. Ia menyoroti perbedaan mencolok antara gaji pejabat yang bekerja di ruang ber-AC dengan pekerja kasar yang menjaga kebersihan dan keamanan kota.

“Kenapa kota-kota tidak bersih? Karena struktur APBD mengajarkan ketidakadilan. Pegawai yang kerjanya di ruang AC tunjangannya puluhan juta, tapi yang kerja sopir truk, pemadam kebakaran, tukang sapu, gajinya kecil-kecil,” tegasnya.

Ia mengusulkan agar sistem penggajian dirubah berdasarkan prestasi kerja, bukan sekadar jabatan atau jenjang pendidikan formal. Dedi memberikan contoh transformasi PT KAI di bawah kepemimpinan Ignasius Jonan yang berhasil karena berani menaikkan gaji masinis dan petugas lapangan.

Pesan Kelestarian Alam dan Kemanusiaan

Dedi juga mengajak para jemaat untuk kembali pada esensi keberagaman yang menghargai alam semesta. Ia memperingatkan bahwa bencana alam yang terjadi saat ini adalah akibat dari keserakahan manusia yang merusak bumi.

“Setiap hari kita ingin membangun tempat ibadah yang indah, tapi jangan-jangan itu simbol kesombongan diri kita. Membangun rumah ibadah tapi dengan hasil tambang ilegal atau merusak hutan. Rumah ibadahnya mewah, tapi hatinya sempit,” tuturnya.

Menutup pidatonya, Dedi menegaskan bahwa kemanusiaan harus melewati batasan keagamaan. Baginya, indikator keberhasilan seorang pemimpin bukan diukur dari ketaatan ritual pribadinya, melainkan dari tidak adanya lagi jalan berlubang, sekolah yang terisi anak yatim secara gratis, dan layanan kesehatan yang tidak membedakan status sosial.

“Semoga pertemuan malam hari ini menjadi pertemuan yang mencerahkan, membahagiakan, dan membawa harapan. Selamat Natal dengan cinta, hidup kita bahagia,” pungkasnya.

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=XH9oSZLEMq8